2011 - sekarang
Teknologi
Distributor perangkat keras dan lunak di bidang IT dan develop aplikasi sendiri guna kebutuhan komersial client.
Sejak 2011
Teknologi, Batubara, dan Nikel - efisiensi untuk profit yang berkelanjutan.
Tentang
Berdiri sejak 2011 dengan bisnis utama di sektor Teknologi, Software dan Hardware adalah bagian utama dari pertumbuhan bisnis Tricitta Synergy.
Berjalan waktu dan bertambahnya profesional yang berpengalaman, Tricitta Synergy merambah bidang berbeda dan melebarkan bisnis ke beberapa sektor dan sister company.
Tricitta Synergy
2011 - sekarang
Distributor perangkat keras dan lunak di bidang IT dan develop aplikasi sendiri guna kebutuhan komersial client.
2018 - sekarang
Mulai menambang batubara di lokasi Kuaro dan Tanah Grogot, Paser, Kaltim.
2021 - sekarang
Menambang nikel di beberapa lokasi di Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, seperti Mandiodo, Sulaho, dan Batuputih.
Mengapa
PT. Tricitta Synergy telah memiliki rekam jejak di bidang IT dan Tambang, merupakan kombinasi menarik berbisnis hasil tambang dan dapat melakukan efisiensi guna maksimalkan profit secara komersial bisnis.
Tricitta Synergy
Menjadi ekosistem bisnis terdepan di Indonesia, dengan pertumbuhan seimbang antara profitabilitas, pemberdayaan manusia, dan keberlanjutan lingkungan.
Menumbuhkan budaya yang berani bereksperimen dan cepat beradaptasi terhadap dinamika serta tren industri ke depan.
Menjadikan IPO di Bursa Efek Indonesia sebagai target utama perusahaan.
Memperkenalkan
PT. Tricitta Synergy dapat menyediakan kebutuhan End User dan Trader akan batubara dengan kadar 3600-5600 dari lokasi tambang di Kaltim dan kebutuhan akan IUP Batubara yang siap diambil alih.
PT. Tricitta Synergy memiliki dan sanggup menyediakan kebutuhan akan Nikel dengan kadar Ni 1,3-1,7 untuk kebutuhan smelter dan kebutuhan akan IUP Nikel yang bisa diambil alih.
PT. Tricitta Synergy juga memiliki sister company untuk trading batubara dan nikel guna akomodir peraturan pemerintah akan posisi trader dalam rantai pasok mineral.
Mineral
PT. Tricitta Synergy memanfaatkan analitik big data untuk memantau pertumbuhan nikel, batubara, dan emas dalam lima tahun terakhir. Temuan ini menjadi dasar keputusan perusahaan untuk masuk ke sektor pertambangan.
Permintaan nikel dalam negeri tumbuh pesat sejak pemerintah menjalankan hilirisasi. Kebutuhan material mentah pun semakin tinggi, terutama dengan masuknya Eramet dari Prancis dan Ford yang akan mengembangkan kawasan Pomala, Sulawesi Tenggara. Batubara juga terbukti mampu menopang kebutuhan listrik dalam negeri; PLN Indonesia Power, misalnya, meminta kadar tertentu kepada Tricitta Synergy.
Dalam lima tahun terakhir, harga emas terus menguat di tengah ketegangan geopolitik di beberapa kawasan. Indonesia memiliki cadangan emas yang siap diproduksi, khususnya di Sulawesi Tengah.
Telepon: +62 811 356 663